KEREBRITIS; KEKAYAAN DARI KAUM KERE*

 

Tak ada yang senang hidup miskin. Apalagi bercita-cita hidup miskin. Karena kemiskinan identik dengan kesengsaraan, kemelaratan, kehinaan, ketidak berdayaan,… dan sederet embel-embel lainnya yang pasti sungguh tidak menyenangkan.

 

Jikalau ada orang hidup senang miskin, pastilah orang tersebut termasuk dalam tingkatan seorang wali Allah. Dan hanyalah baginda nabi Muhammad saw yang sungguh-sungguh berdoa dan bercita-cita hidup miskin. Sungguhpun demikian, baginda nabi saw selalu mewanti-wanti ummatnya untuk tidak hidup dalam kemiskinan, karena kemiskinan dekat dengan kekafiran.

 

Namun tokoh-tokoh –yang sebagian besar diwakili oleh ‘Karto’—dalam kumpulan cerpen Kerebritis karya Juslifar M. Junus ini bukanlah waliyullah. Bukan pula pengamal doa nabi Muhammas saw. Karto dan teman-temannya hidup miskin lantaran dipojokkan oleh nasib yang menghimpit mereka. Kemiskinan adalah kenyataan yang mesti mereka terima sebagai bagian kehidupan sehari-hari.

 

Kemiskinan. Inilah yang menjadi tema dasar dari kumpulan cerpen Kerebritis karya Juslifar M. Junus ini. Menjadikan kemiskinan sebagai tema bukanlah sesuatu yang hebat. Karena di negeri ini, kemiskinan dan orang-orang miskin pun sudah jadi bagian kehidupan di negara kita.  Tidak ada bagian dinegeri ini yang tidak terdapat orang miskin. Tidak perlu diperdebatkan berapa banyak orang miskin. Yang pasti jumlahnya melebihi orang-orang kaya yang berkuasa di negeri kita tercinta.

Tapi menjadikan kemiskinan sebagi tema sebuah karya membutuhkan energi empati yang besar. Itulah yang tergambar dalam diri sang penulis Kerebritis dalam kupulan cerpennya ini.

 

Kemiskinan, memang kerapkali menjadi komoditi yang menguntungkan untuk mencapai keinginan seseorang atau sekelompok orang.

Kaum kaya sering menjadikan orang miskin sebagai bahan komoditas eksploitasi untuk mendapatkan buruh dengan upah rendah.

“ Adalah sudah menjadi kodratnya menjadi orang kaya yang gemar mempermainkan orang miskin. Tapi baginya hal itu bukanlah hal yang terlampau jahat, sama saja dengan orang pintar yang doyan mempermainkan orang tolol. Orang kuat yang suka memainkan orang lemah. Orang sehat yang senang mempermainkan orang sakit.” (Sepotaker).

 

 Sering memang, kemiskinan dijadikan komoditas bagi seorang politikus untuk mencapai kekuasaan. Kemiskinan tidak jarang dijadikan bahan partai politik untuk menyerang oposisinya. Pun tak jarang kemiskinan diolah sedemikian rupa oleh penguasa sebagai alat melanggengkan kekuasaan. Bahkan kemiskinan dijadikan senjata oleh kaum miskin itu sendiri untuk menyuarakan kehendaknya, dengan cara mereka sendiri.

“Tapi ini adalah soal tempe pak!!, saya dan keluarga saya ndak mungkin makan nasi sama garam..saya juga ndak serakah dan aneh-aneh pingin lauk daging atau ikan, saya cuma mau makan nasi sama Tempeee…”  (Tapi Ini Soal Tempe).

 

Melalui empatinya terhadap kemiskinan, Juslifar M.Junus merasa dekat dengan subyek, bahkan sangat dekat. Namun mampu menjaga jarak untuk tidak ikut-ikutan menjadikan temanya sebagai obyek penderita. Sehingga karya-karyanya mampu ditampilkan apa adanya. Secara utuh. Fokus.

 

Juslifar M. Junus hanya memotret kemudian mencetaknya dalam bentuk cerpen. Ia ibarat pelukis dalam kanvas kalimat-kalimat. Cerpen-cerpennya adalah panggung teater yang menampilkan monolog-monolog tentang kemiskinan.

 

Namun demikian, monolog-monolog yang ditampilkan tidak monoton. Juslifar M. Junus dengan cerdik memotret tema yang ditampilkannya dari berbagai sudut.

 

Kerebritis jadi simbol perlawanan. Perjuangan kaum miskin untuk melepaskan diri dari jeratan nasibnya yang sumpah mati tidak mereka inginkan.

…..supaya status fakir miskin ndak berangsur-angsur jadi kafir miskin, hehehe..” (Sorganya Mbahmu)

 

 Orang kaya tidak pernah ingin miskin. Orang miskin tidak ingin miskin selamanya. Orang kaya sering ngomong bahwa soal miskin atau kaya hal yang biasa saja. Sama saja. Itu karena mereka sedang kaya. Dan terus berupaya dengan cara apa saja untuk tetap bisa kaya.

“ Jaman Penjajahan baik jepang atau Belanda, yang bisa jadi Wedono, Lurah atau Pejabat pasti dicurigai sebagai pengkhianat. Karena mereka selalu nunduk-nunduk dan milih kerjasama dengan para penjajah. Jadi mereka bisa terus bertahan sebagai warga kelas Sugeeh alias kaya makmur sehingga menjaga anak turunnya jangan sampek kere kayak kamu..” (Kere Sejak Dulu Kala (h)…)

 

 

Bagi kaum kere tentu miskin kaya tidak sama. Makannya sama, sama-sama lewat mulut. Tapi soal apa yang dimasukkan dan berapa banyak masuknya tentu tidak sama. Kere atau kaya sama-sama berpakaian. Soal jenis dan harga bahannya pasti tidak sama. Kalau ngantuk, orang kaya atau miskin ya tidur. Tapi soal dimana tidurnya tentu beda.

“Mungkin karena memang ada kemiripan antara keduanya….., tapi harganya beda jauh. Bagaikan langit dan comberan di bumi.” (Kerebritis, What The Hell is That?)

 

“tapi para kaum kere selalu saja menemukan akal bulus buat menyamarkan. Makan kutu dibilang Petan (cari kutu). Ngemplok tumo beras disamarkan dengan pake buah pisang katanya untuk obat penyakit kuning alias hepatitis. Makan cindil dikatakan supaya kuat mbecak, makan kadal katanya buat obat, makan tekek dibilang buat penolak gatal-gatal.” (Petan)

 

Juslifar M. Junus tidak sedang mengajak kita untuk tertawa menyaksikan tingkah pola kaum kere dalam karya-karyanya. Ketidak berdayaanlah yang memuat mereka seperti itu. Hanya kaum kere yang berhak menertawakan diri mereka sendiri. Egois ? Memang. Karena mungkin itulah cara mereka menghibur diri sendiri. Sebab menangis bagi kaum kere tidak ada gunanya sama sekali. Bersedih, apalagi menangis tidak akan mengangkat harkat mereka ke jenjang hidup kaya.

“Mboknya Karto memutuskan untuk tak menangis. Adalah nista menjatuhkan airmata untuk memuaskan kerumunan orang yang tak henti menontonnya. Adalah haram memperlihatkan kelemahan hati buat orang-orang yang tak punya nurani. Adalah tabu menunjukkan remuk redam dan pahit nasib kepada orang-orang yang nonton kematian sambil makan kwaci.” (Karto Kere dan Mboknya Yang Nyaris Bongko)

 

Membaca Kerebritis, bukan berarti tanpa kelemahan. Tapi apalah arti kelemahan jika kita menerima begitu banyak kelebihan. Sama seperti apalah arti kemiskinan jika kita menerima banyak kekayaan justru dari orang-orang yang kita pandang miskin.

 

Walhasil, kumpulan cerpen dengan tema biasa-biasa saja (namun dengan sentuhan luar biasa) ini merupakan sebuah oase ditengah padang individualisme, konsumerisme, hedonisme, dan isme-isme lainnya yang acapkali menyesatkan di dunia modern. Karena pada dasarnya Tuhan mewajibkan kita menjaga harmonisasi kehidupan sosial.

 

Maka membaca buku ini seharusnya menjadi menu wajib santapan jiwa, makanan rohani kita selain teks-teks agama. Dan yang pasti, saya terus merindukan Juslifar M. Junus terus melahirkan menu-menu wajib bagi santapan rohani kita.

 

Dan apabila ada diantara kita yang sedang dihimpit kemiskinan, barangkali patut dibaca resep dari penulis :

“Kata Mbah Ndrongos, banyak makan Brutu bikin kita cepat pikun lho Lek..”

“Hahaha…malah enak toh,..kita jadi cepat lupa kalo kita ini hidupnya sengsara ..”

(Brutu Philosophia)

 

Sumenep, 2008

*EN. Hidayat

PILKADA JAWA TIMUR (:harapan)

Hari ini, siang ini, penghitungan manual hasil pilkada Jawa Timur akan diselesaikan. Akan segera ketahuan siapa yang akan menjadi gubernur Jawa Timur lima tahun kedepan. Apakah Khofifah IP yang berpasangan dengan Mujiono akan memenangkan pertarungan pilkada putaran kedua ini mengungguli pasangan Sukarwo yang bergandengan dengan Saifullah Yusuf seperti yang “diramal” hasil quick count beberapa lembaga survey ?

Ataukah pasangan pakde Karwo + gus Ipul yang akan menjungkir balikkan perkiraan quick count yang selisihnya cuma sebeberapa helai rambut itu ?

Entahlah, saya tidak punya kepentingan apapun terhadap hasil pilgub kali ini. Cuma sebagai bagian dari rakyat Jawa Timur saya tentu berharap apapun hasilnya, Jawa Timur tetap dalam suasana kondusif, aman. Karena kalah menang soal biasa dalam berdemokrasi.

Jika usai penghitungan suara, Jawa Timur tetap dalam kondisi yang sejuk, saya sangat yakin, Jawa Timur dapat jadi percontohan demokrasi di negara Indonesia

KATA ORANG, KATAMU, AKU TERIMA….

KATA ORANG, KATAMU, AKU TERIMA….

 

Kata orang, dunia maya adalah dunia semu. Aku mengangguk-angguk.

Kata orang, dunia blogger adalah dunia yang tak nyata. Aku mengangguk-angguk.

Orang menyarankan, jangan terlalu jujur ketika berada di dunia internet. Aku mengangguk-angguk.

 

Aku mengangguk-angguk bukan karena mengerti. Tapi lantaran minimnya pengetahuanku tentang dunia maya, internet, blog dan semua hal yang berkaitan dengannya.

 

Jika kemudian aku berselancar diinternet, membuat blog, berkomentar, mengajak kalian berngobrol, bertukar pikiran dll, itu lebih didorong oleh kehendak memuaskan rasa keingintahuanku terhadap berbagai informasi. Juga oleh keinginanku untuk berbagi informasi dengan kalian semua, para blogger. Tentu juga untuk menambah sahabat dalam perdamaian, menjalin silaturrahmi, karena aku yakin kita semua adalah bersaudara.

 

Nggak lebih. Hanya itu.

 

Andai kemudian kalian mau berkunjung ke blogku, tentu aku menyambut gembira.

Andai kemudian engkau mau mengomentari apa yang aku tulis, dengan senang hati aku menerima.

Jika kalian ingin mengajari apa-apa yang belum aku tahu, pasti aku bangga kepadamu.

Pun jika kemudian engkau curiga akan keberadaanku, blogku, tulisanku dan kemudian kalian ingin mengritik bahkan menghujat, itu hak kalian. Sebagai saudara, aku terima saja.

 

Bi ismi Allah………..

AGAMA, PENDORONG KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN

Ketika dicari hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, akan menimbulkan pertanyaan mendasar apakah memang ada kaitan antara ilmu pengetahuan itu dengan agama. Kalau ada, bagaimana bentuk hubungan itu ? saling melengkapi ? saling membangun ? ataukah antara keduanya tidak memiliki keterkaitan satu sama lainnya karena ilmu pengetahuan (selanjutnya saya sebut dengan ilmu) dan agama merupakan dua wilayah yang berbeda bahkan berseberangan ? Hal ini penting untuk dikemukakan karena satu sisi agama berada pada wilayah yang cenderung dogmatis karena dikendalikan oleh wahyu dan di sisi yang lain ilmu berada pada wilayah empirik yang selalu berubah (dinamis).

Dan karena saya seorang muslim, maka uraian berikut adalah mengikuti pendekatan saya selaku orang Islam.

Uraian ini akan saya mulai dengan mengutip pendapat seorang sahabat Rasul Allah Muhammad saw, yaitu Ali ibn Abi Thalib yang disampaikan pada abad 6 (enam) Masehi, mengatakan bahwa ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu akan lumpuh (entah mengapa pada abad 20 Masehi tiba-tiba dunia mengakui bahwa kata-kata ini diucapkan oleh Albert Einstein !)

Ucapan Ali ibn Abi Thalib di atas mengisyaratkan adanya hubungan yang saling berkait antara ilmu dan agama. Lalu bagaimana hubungan tersebut terbentuk ?

Jika disandarkan pada al-Quran, maka seluruh bagian dalam al-Quran selalu berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Untuk hal ni dapat dipilah menjadi tiga bagian, yaitu kewajiban untuk mencari ilmu, kisah-kisah yang menyiratkan perkembangan ilmu pengetahuan, dan rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang belum terungkap.

Kewajiban untuk mencari ilmu

Bagi seorang muslim yang sebenarnya (karena ada juga orang Islam yang tidak memiliki semangat muslim), mencari ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya adalah sebuah kewajiban. Bagaimana tidak, wahyu yang pertama kali diturunkan Tuhan adalah perintah (!) untuk menuntut ilmu (QS. Al-‘Alaq 1-5) bukan perintah yang lainnya semisal shalat, puasa, zakat, dsb. Begitu pula dalm beberapa surat lainnya diterangkan tentang derajat orang berilmu yang sangat tinggi di sisi Tuhan (QS.al-Hujurat 11-13).

Dalam hukum Islam yang kedua setelah al-Quran, yaitu al-Hadits juga banyak sekali diterangkan tentang keutamaan mencari ilmu. Misalnya sebuah hadits (: sabda, sikap, dan perilaku nabi Muhammad saw) yang berbunyi “menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”, atau yang berbunyi “tuntulah ilmu sejak dari buaian ibu sampai ke liang kubur” yang sangat jelas diadopsi oleh ilmu pendidikan modern sebagai long life education. Bahkan dalam hadits yang lain nabi menyuruh kita untuk “tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina” yang menuntun umat Islam untuk tidak menjadi ”katak dalam tempurung”.

Kisah-kisah yang menyiratkan perkembangan ilmu pengetahuan

Banyak sekali kisah-kisah dalam al-Quran (menurut para ahli tafsir, isi al-Quran mencakup tiga hal, yaitu kisah para nabi, keimanan, dan hukum) yang menceritakan beberapa perkembangan ilmu pengetahuan yang patut dijadikan referensi bagi pengetahuan yang baru. Diantaranya adalah teknologi perkapalan yang dikembangkan oleh nabi Nuh as ketika akan menghadapi badai besar yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Ada juga teknologi pertanian dan manajemennya yang dikembangkan nabi Yusuf as (Yoseph) ketika menghadapi paceklik. Juga bagaimana manajemen pemerintahan dan teknologi arsitektur yang begitu mencengangkan dikembangkan oleh nabi Sulaiman as (Solomon) dengan taman bergantung dan istana kacanya.

Selain itu banyak lagi kisah-kisah lainnya, karena setiap Tuhan menurunkan nabiNya tidak serta-merta hanya untuk mengembangkan agama namun juga membawa perkembangan ilmu pengetahuan yang ditinggalkan untuk generasi seterusnya.

Rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang belum terungkap

Selain kisah-kisah diatas, masih banyak lagi khasanah ilmu pengetahuan yang terdapat dalam al-Quran (yang diturunkan limabelas abad yang lalu !) menantang umat manusia untuk mengungkapnya. Ada sebagian yang tersingkap oleh ilmu pengetahuan modern saat ini, tapi ada pula yang masih terkubur sebagai rahasia.

Beberapa diantaranya ialah, bagaimana al-Quran menjelaskan secara rinci perkembangan janin sejak masih berupa spermatozoa hingga mencapai bentuk manusia sempurna (QS.an-Nisa) yang waktu itu belum terpikirkan oleh pengetahuan. Bagaimana pula Tuhan menjelaskan bahwa Ia akan mengawetkan jasad Firaun (Pharao) yang mati tenggelam ketika mengejar nabi Musa as (Moses), dan itu belum tersentuh oleh pengetahuan waktu itu. Juga tentang penjelasan al-Quran yang menyatakan bahwa manusia tidak akan sanggup bernafas diluar angkasa karena tiadanya oksigen disana, yang pada waktu ayat ini diturunkan menimbulkan tandatanya karena ilmu pengetahuan waktu itu belum menjamahnya.

Sebagian kisah yang saya sebutkan diatas, merupakan sebagian pengetahuan yang baru terungkap oleh ilmu pengetahuan modern ! (ilmu kedokteran modern baru dapat mengungkapkan bagaimana janin terbentuk sejak dari pembahan sperma terhadap sel telur, juga ditemukannya mummy Firaun (Pharao) beberapa waktu lalu yang diyakini pengetahuan modern sebagai orang yang mengejar nabi Musa (Moses), dan juga bagaimana pengetahuan modern baru saja dapat menjelaskan bahwa luar angkasa ternyata hampa udara).

Selain itu masih banyak ragam ilmu pengetahuan dalam al-Quran yang belum tersingkap hingga kita memasuki millenium ke 3 pada abad 21 sekarang.

Misalnya tentang konsep al-Quran yang menyatakan bahwa langit terdiri dari tujuh lapisan. Atau juga konsep al-Quran tentang seluruh penyakit mesti ada obatnya (kecuali penyakit menjadi tua dan pikun).

Yang seluruhnya itu menantang umat manusia di dunia untuk membuktikannya.

Terakhir,

Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa agama (Islam) melalui al-Quran dan al-Hadits sangat mendorong perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Dari ayat-ayat yang diterdapat dalam al-Quran dan al-Hadits sesungguhnya dapat dijadikan referensi bagi para pemikir-ilmuwan didunia ini agar diteliti, dikaji, dan dianalisis untuk mengungkap beragam rahasia pengetahuan yang masih terkubur bersama alam.

Akhirnya, ilmu pengetahuan sesungguhnya dapat menjadi pisau bedah untuk mengkaji, menguji, meneliti, dan menganalisis kebenaran serta kemukjizatan sebuah wahyu (kitab suci).

En.hidayat’s Blog › Perkakas — WordPress