AGAMA, PENDORONG KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN

Ketika dicari hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, akan menimbulkan pertanyaan mendasar apakah memang ada kaitan antara ilmu pengetahuan itu dengan agama. Kalau ada, bagaimana bentuk hubungan itu ? saling melengkapi ? saling membangun ? ataukah antara keduanya tidak memiliki keterkaitan satu sama lainnya karena ilmu pengetahuan (selanjutnya saya sebut dengan ilmu) dan agama merupakan dua wilayah yang berbeda bahkan berseberangan ? Hal ini penting untuk dikemukakan karena satu sisi agama berada pada wilayah yang cenderung dogmatis karena dikendalikan oleh wahyu dan di sisi yang lain ilmu berada pada wilayah empirik yang selalu berubah (dinamis).

Dan karena saya seorang muslim, maka uraian berikut adalah mengikuti pendekatan saya selaku orang Islam.

Uraian ini akan saya mulai dengan mengutip pendapat seorang sahabat Rasul Allah Muhammad saw, yaitu Ali ibn Abi Thalib yang disampaikan pada abad 6 (enam) Masehi, mengatakan bahwa ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu akan lumpuh (entah mengapa pada abad 20 Masehi tiba-tiba dunia mengakui bahwa kata-kata ini diucapkan oleh Albert Einstein !)

Ucapan Ali ibn Abi Thalib di atas mengisyaratkan adanya hubungan yang saling berkait antara ilmu dan agama. Lalu bagaimana hubungan tersebut terbentuk ?

Jika disandarkan pada al-Quran, maka seluruh bagian dalam al-Quran selalu berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Untuk hal ni dapat dipilah menjadi tiga bagian, yaitu kewajiban untuk mencari ilmu, kisah-kisah yang menyiratkan perkembangan ilmu pengetahuan, dan rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang belum terungkap.

Kewajiban untuk mencari ilmu

Bagi seorang muslim yang sebenarnya (karena ada juga orang Islam yang tidak memiliki semangat muslim), mencari ilmu baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya adalah sebuah kewajiban. Bagaimana tidak, wahyu yang pertama kali diturunkan Tuhan adalah perintah (!) untuk menuntut ilmu (QS. Al-‘Alaq 1-5) bukan perintah yang lainnya semisal shalat, puasa, zakat, dsb. Begitu pula dalm beberapa surat lainnya diterangkan tentang derajat orang berilmu yang sangat tinggi di sisi Tuhan (QS.al-Hujurat 11-13).

Dalam hukum Islam yang kedua setelah al-Quran, yaitu al-Hadits juga banyak sekali diterangkan tentang keutamaan mencari ilmu. Misalnya sebuah hadits (: sabda, sikap, dan perilaku nabi Muhammad saw) yang berbunyi “menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”, atau yang berbunyi “tuntulah ilmu sejak dari buaian ibu sampai ke liang kubur” yang sangat jelas diadopsi oleh ilmu pendidikan modern sebagai long life education. Bahkan dalam hadits yang lain nabi menyuruh kita untuk “tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina” yang menuntun umat Islam untuk tidak menjadi ”katak dalam tempurung”.

Kisah-kisah yang menyiratkan perkembangan ilmu pengetahuan

Banyak sekali kisah-kisah dalam al-Quran (menurut para ahli tafsir, isi al-Quran mencakup tiga hal, yaitu kisah para nabi, keimanan, dan hukum) yang menceritakan beberapa perkembangan ilmu pengetahuan yang patut dijadikan referensi bagi pengetahuan yang baru. Diantaranya adalah teknologi perkapalan yang dikembangkan oleh nabi Nuh as ketika akan menghadapi badai besar yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Ada juga teknologi pertanian dan manajemennya yang dikembangkan nabi Yusuf as (Yoseph) ketika menghadapi paceklik. Juga bagaimana manajemen pemerintahan dan teknologi arsitektur yang begitu mencengangkan dikembangkan oleh nabi Sulaiman as (Solomon) dengan taman bergantung dan istana kacanya.

Selain itu banyak lagi kisah-kisah lainnya, karena setiap Tuhan menurunkan nabiNya tidak serta-merta hanya untuk mengembangkan agama namun juga membawa perkembangan ilmu pengetahuan yang ditinggalkan untuk generasi seterusnya.

Rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang belum terungkap

Selain kisah-kisah diatas, masih banyak lagi khasanah ilmu pengetahuan yang terdapat dalam al-Quran (yang diturunkan limabelas abad yang lalu !) menantang umat manusia untuk mengungkapnya. Ada sebagian yang tersingkap oleh ilmu pengetahuan modern saat ini, tapi ada pula yang masih terkubur sebagai rahasia.

Beberapa diantaranya ialah, bagaimana al-Quran menjelaskan secara rinci perkembangan janin sejak masih berupa spermatozoa hingga mencapai bentuk manusia sempurna (QS.an-Nisa) yang waktu itu belum terpikirkan oleh pengetahuan. Bagaimana pula Tuhan menjelaskan bahwa Ia akan mengawetkan jasad Firaun (Pharao) yang mati tenggelam ketika mengejar nabi Musa as (Moses), dan itu belum tersentuh oleh pengetahuan waktu itu. Juga tentang penjelasan al-Quran yang menyatakan bahwa manusia tidak akan sanggup bernafas diluar angkasa karena tiadanya oksigen disana, yang pada waktu ayat ini diturunkan menimbulkan tandatanya karena ilmu pengetahuan waktu itu belum menjamahnya.

Sebagian kisah yang saya sebutkan diatas, merupakan sebagian pengetahuan yang baru terungkap oleh ilmu pengetahuan modern ! (ilmu kedokteran modern baru dapat mengungkapkan bagaimana janin terbentuk sejak dari pembahan sperma terhadap sel telur, juga ditemukannya mummy Firaun (Pharao) beberapa waktu lalu yang diyakini pengetahuan modern sebagai orang yang mengejar nabi Musa (Moses), dan juga bagaimana pengetahuan modern baru saja dapat menjelaskan bahwa luar angkasa ternyata hampa udara).

Selain itu masih banyak ragam ilmu pengetahuan dalam al-Quran yang belum tersingkap hingga kita memasuki millenium ke 3 pada abad 21 sekarang.

Misalnya tentang konsep al-Quran yang menyatakan bahwa langit terdiri dari tujuh lapisan. Atau juga konsep al-Quran tentang seluruh penyakit mesti ada obatnya (kecuali penyakit menjadi tua dan pikun).

Yang seluruhnya itu menantang umat manusia di dunia untuk membuktikannya.

Terakhir,

Dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa agama (Islam) melalui al-Quran dan al-Hadits sangat mendorong perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Dari ayat-ayat yang diterdapat dalam al-Quran dan al-Hadits sesungguhnya dapat dijadikan referensi bagi para pemikir-ilmuwan didunia ini agar diteliti, dikaji, dan dianalisis untuk mengungkap beragam rahasia pengetahuan yang masih terkubur bersama alam.

Akhirnya, ilmu pengetahuan sesungguhnya dapat menjadi pisau bedah untuk mengkaji, menguji, meneliti, dan menganalisis kebenaran serta kemukjizatan sebuah wahyu (kitab suci).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: